salam

SELAMAT DATANG DI BLOG KU
JADIKAN DIRI KITA
AKTIF DAN PRODUKTIF...!!!


ANDA PENGUNJUNG KE

Selasa, 23 Agustus 2011

MANAFAAT SILATURAHIM


Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda, "Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, setelah menyelesaikannya, rahm berdiri sambil memegangi pakaian kebesaran Sang Maha Penyayang (Allah). Allah berfirman, "Cukup. Ada apa ini?" Rahm berkata, "Ini adalah tempat berlindung kepada-Mu dari pemutusan hubungan silaturahim." Allah berfirman, "Tidakkah kamu senang bahwa Aku akan menyambung (rahmat-Ku) untuk orang yang menyambung silaturahim, dan memutus (rahmat-Ku) untuk orang yang memutus silaturahim?" Rahm menjawab, "Ya, wahai Tuhanku." Allah berfirman, "Maka itulah (janji-Ku) untukmu." Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah jika kalian suka ayat ini, "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (QS Muhammad/47: 22)

Selain sebagai kebajikan, menyambung silaturahim juga mendatangkan manfaat dan keberkahan. Dalam sebuah Hadis shahîh yang diriwayatkan al-Bukhari, Nabi SAW menegaskan, "Man sâra an yubsatha lahu fî rizqihi wa yunsa`a lahu fî atsarihi falyashil rahimahu." Barangsiapa ingin diluaskan rezeki dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.

Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan lebih luas tentang manfaat silaturahim, "Pelajarilah/kenalilah nasab kalian yang dapat menyambung silaturahim, karena silaturahim menumbuh kecintaan dalam keluarga, memerbanyak harta, dan memanjangkan umur."

Imam Ahmad meriwayatkan, "Menyambung silaturahim dan keharmonisan bertetangga, dapat memakmurkan rumah tangga dan menambah umur."

Ketika Islam memerintahkan sesuatu kepada pemeluknya, tentu ada kemaslahatan bagi mereka sebagai mukallaf. Bila dihayati lebih jauh, makna silaturahim dapat meluaskan rezeki, dapat dilihat dalam prinsip dunia bisnis yang menyatakan bahwa semakin banyak relasi, maka bisnis akan kian berkembang.

Bisa jadi orang yang selalu luas menjalin silaturahim, rezeki akan mendatangnya dari berbagai arah. Adalah suatu hal yang logis, bila kemitraan dan relasi publik merupakan kunci sukses sebuah bisnis saat ini. Seperti pola bisnis MLM (Multi Level Marketing) yang menerapkan konsep kekeluargaan, kemitraan dan relasi dengan jitu.

Universalitas silaturahim

Silaturahim atau menyambung tali persaudaraan bersifat universal. Tak terbatas hubungan darah, agama, atau daerah. Silaturahim dibangun pada fakta bahwa semua manusia adalah makhluk Tuhan, berasal dari satu turunan Adam dan Hawa. Oleh karena itu, Islam mengakui adanya persaudaraan universal, di samping ukhuwwah islamiyah di kalangan penganut kaum Muslimin.

Dalam sebuah riwayat yang dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah: Saat sebuah iring-iringan jenazah lewat, maka Rasulullah sontak berdiri (sebagai penghormatan). Kamipun berdiri sambil bertanya, "Wahai Rasulullah, jenazah itu seorang Yahudi!" Rasulullah menjawab, "Jika lewat jenazah hendaklah kalian berdiri." (HR al-Bukhari)

Begitulah Nabi mengajarkan tentang universalitas persaudaraan manusia. Meski si jenazah seorang Yahudi, namun ia juga manusia yang layak mendapat penghormatan.

Islam selalu mengajarkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada sesama, menghargai orang lain walau berbeda keyakinan. Bahkan, seorang anak harus bersikap baik dan terus menyambung silaturahim kepada kedua orangtuanya sekalipun berbeda keyakinan.

Allah berfirman, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS Luqmân/31: 15)

Memang, tali silaturahim pada awalnya bersifat hubungan darah langsung, namun ini tak berarti menyambung tali silaturahim kepada orang yang tidak memiliki hubungan darah kurang berarti. Secara mikro, manusia memiliki hubungan berdasarkan hubungan darah, kekerabatan, kesukuan, kebangsaan. Tapi secara makro, manusia di seluruh dunia terikat hubungan sebagai makhluk Tuhan yang saling terikat satu dengan lainnya.

Dalam konsep al-Qur'an (QS an-Nisâ/4: 36) dinyatakan ada beberapa pihak yang selalu dijaga hubungannya oleh seorang Muslim. Di antaranya kedua orangtua, al-jâr dzil-qurbâ (tetangga yang ada hubungan kekerabatan), al-jâr al-junûb (tetangga tidak ada hubungan kekerabatan), serta shâhib bil-janbi (teman dalam perjalanan).

Bahkan ath-Thabari justru menafsirkan al-jâr dzil-qurbâ sebagai tetangga yang memiliki talian satu keyakinan, sedangkan al-jâr al-junûb adalah tetangga yang tidak satu keyakinan.

Ath-Thabrani dan al-Bazzar mengeluarkan sebuah Hadis yang mendukung konsep ini, "Tetangga terdiri dalam tiga macam. (Pertama,) tetangga yang memiliki satu hak, yaitu seorang musyrik yang hanya memiliki hak tetangga. (Kedua,) tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang Muslim yang memiliki hak tetangga dan hak Islam. (Ketiga,) tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu seorang Muslim yang memiliki talian hubungan darah, hak tetangga, hak Islam dan hak rahm/kerabat)."

Meskipun riwayat ini dinyatakan dha'îf oleh sebagian ahli Hadis, namun maknanya shahîh dan sangat sesuai dengan visi maupun misi Islam sebagai rahmatan lil-'âlamîn.

Untuk itu Ali Naif Sahud, sosiolog Muslim, menegaskan bahwa bangunan sosial kemasyarakatan dalam Islam terbangun berlandas pada tiga pondasi: hubungan talian darah (rahm), hubungan kekerabatan (qarâbah), dan ketetanggaan (jiwâr).

Kembali kepada fitrah

Silaturahim merupakan fitrah manusia. Sebab, sebagai makhluk sosial, manusia harus berinteraksi satu dengan lainnya. Sebagai zoon politicon, tentunya manusia harus menerima kenyataan tentang perbedaan. Perbedaan ini tetap ada dalam bingkai keragaman yang bermuara pada manusia yang satu.

Bersilaturahim berarti menjaga persaudaraan manusia. Persaudaraan manusia adalah fitrah. Itulah sebabnya ketika menjelang hari raya 'Id Fitri, kaum Muslimin yang memiliki kelebihan makanan pokok diwajibkan membayar zakat fitrah. Karena pada dasarnya, membayar zakat dan memberi sedekah merupakan bagian dari menjaga tali persaudaraan.

Tidaklah heran bila kemudian Rasulullah mengkaitkan kecintaan di antara masyarakat karena saling memberi. "Tahâdau fainnal hadiyyata tudzhibu wa'ârish-shadri." Saling memberilah di antara kalian, karena suatu pemberian akan menghilangkan kedengkian hati.

Kembali ke fitrah merupakan dambaan setiap insan yang patuh kepada Tuhannya. Ketika manusia telah kembali kepada fitrah, maka ia telah menjadi manusia seutuhnya. Dengan demikian, kehidupan pun akan menjadi indah dan harmonis.

Tidak mustahil bangsa yang beragam suku, bahasa, dan agama seperti kita dapat memertahankan kesatuan di atas keragaman, selama tali persaudaraan di antara komponen bangsa di jaga. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr, niscaya akan terwujud. Wallâhu a'lam bish-shawâb.

Tidak ada komentar: